Tentang Selaklali

Kanca Anti Lali yang baik,

Kita sama-sama merasa bahwa memori manusia semakin pendek, ironisnya hal itu terjadi di masa ketika ketika arus informasi semakin menjadi. Tak ayal, kita berhadapan dengan tumpang-tindih memori, antara kolektif dan pribadi, antara psikologis dan kultural, antara yang kontemporer dan historis. Semuanya bersengkarut, ruwet dalam jalinan yang tak dapat digambarkan, lebih kusut dari headset di kantung celanamu yang kemudian dikeluarkan lagi. Konsekuensi nyaris tak logisnya adalah, kita cenderung melupakan banyak hal dari hari ke hari, baik secara pribadi maupun kolektif, dari hal remeh-temeh hingga penting mendunia.

Fenomena Lupa (dengan L besar!) ini menjadi perhatian kami yang paling dasar. Jangankan sejarah, budaya dan identitas kita, sesuatu yang njedul di seluruh lini media sosial-massa hari ini dapat segera kita Lupakan hanya dalam hitungan hari. Di samping itu konsumsi kita atas informasi kian majemuk, berbagai arus identitas dan budaya berkelebat di layar kecil seukuran genggaman tangan, membuat kita tak lagi punya ikatan batin kuat pada sejarah dan budaya. Lantas manusia hidup dalam kemajemukan yang ambigu, ketika diri memiliki beberapa nilai bersamaan dalam satu waktu tanpa benar-benar mengimaninya secara utuh. Pertanyaan dasar yang penting lantas mengemuka di tengah arus serba ambigu itu: apa kita benar-benar Lupa siapa kita sebenarnya?

Selaklali merupakan bahasa Jawa untuk “Keburu Lupa” dalam bahasa Indonesia. Sekilas memang seperti nama guyonan (dan memang awalnya kami lontarkan sebagai guyonan kala berdiskusi serius), akan tetapi lambat-laun kami sadar bahwa kata itu memiliki makna yang lebih dalam, tentu saja paling tidak dalam relung berpikir kami yang lahir dari tradisi keilmuan sejarah. Selaklali lantas menjelma menjadi sebuah etos, untuk mengingat, untuk mendokumentasikan, untuk menulis, untuk menyebarluaskan ingatan kolektif kita bersama.

Selaklali hadir di hadapan kawan-kawan sebagai penerbit, sebuah usaha sederhana kami untuk mengingatkan diri sendiri dan menyebarkan kepada publik ihwal dinamika identitas dan kebudayaan kita yang tak pernah usai. Kami yakin sejarah menjadi salah satu kunci penting dalam menjawab dan memahami identitas diri sendiri maupun kolektif, dan pada gilirannya menjadi salah satu unsur penting dalam memahami serta mentransformasi kebudayaan kita secara menyeluruh.

Dengan sepenuh kerendahan hati, izinkan kami hadir di tengah-tengah riuh-rendahnya dunia kebudayaan kita, dengan etos untuk sama-sama menantang, mengubah dan membentuk lanskap kebudayaan yang semakin dinamis menggairahkan!

Ndang ditulis cah, ngko Selaklali!?

Salam,

Redaksi